Cerita dari AMANI Birth Workshop

Alhamdulillah. Oh my.. Si DM ikutan AMANI Birth Workshop, lhooo.. Finally.. Ahey!

Ini adalah salah satu yang disebut dengan dream comes true.

Pertama kali tau tentang AMANI itu.. kayaknya pas abis lahiran Dhuha, tahun 2013. Langsung kepo tea, kan. Amaze juga ternyata ada profesi yang namanya Doula dan Childbirth Educator. Aaaak.. I wanna be that! Saya mauuu jadi Doula! Mau jugaaa jadi CBE!

AMANI Birth workshop di Indonesia pertama kali dilaksanakan tahun 2012. Untuk di kota Bandung sendiri, tahun 2016 ini baru pertama kalinya. Alhamdulillah deket di kota tempat tinggal sendiri. Dulu mah sempet mikirin nanti workshop terdekat di kota mana ya, nginep dimana, titip Dhuha ke siapa, heu. Alhamdulillah Allah memberi kemudahan.

AMANI Birth workshop Bandung berlangsung tiga hari dari tanggal 9-11 September 2016. Full dari pagi ampe sore.

Lalu, setelah ikutan workshop tiga hari itu, apakah saya otomatis jadi Doula dan atau CBE? Belum cyn, perjalanan masih panjang menuju certified affiliated AMANI Birth.

Coba kita urai ceritanya satu-satu yah.. Yang kepo siap-siap.. (Ih da ngga ada yang kepo yey. Ckckck..)

 

Tentang Doula dan Childbirth Educator

“AMANI Birth is an Islamically founded childbirth education and doula program.” begitu kata website AMANI Birth.

AMANI Birth Workshop adalah program pendidikan untuk menjadi Doula dan Childbirth Educator (CBE) profesional. Kurikulumnya belajar tentang natural birth dan juga landasan nilai-nilai Islam.

Profesi jenis apakah Doula itu? Errr.. Doula adalah pendamping persalinan.

Diulangi lagi ya.

Doula adalah pendamping persalinan. Wait.. lalu apa bedanya sama bidan?

Beda. Be. Da.

Doula tidak bisa memberikan saran atau tindakan medis seperti Bidan. Doula bukan penolong persalinan seperti Bidan. Doula adalah pendamping persalinan.

Kata “doula” berasal dari bahasa Yunani kuno yang berarti “seorang wanita yang melayani”. Doula saat ini merujuk kepada seorang pendamping persalinan profesional terlatih dan berpengalaman.

Doula menyediakan tenaga secara kontinyu, dukungan emosional dan informasi (edukasi) untuk ibu sebelum, selama dan setelah persalinan.

doulado

Iya itu. Tugas Doula adalah memberikan dukungan kepada ibu melahirkan. Doula itu sohibnya ibu hamil deh, tempat curhat, temen belajar.

Tapi Doula ngga bisa ikut campur dalam persalinan si Ibu ya. Misal ngasih saran tentang tindakan medis yang akan diambil. No no no. It’s the mother’s birth, not the doula’s.

Penelitian telah menunjukkan bahwa persalinan yang didampingi oleh seorang doula, memberikan waktu persalinan yang lebih pendek dengan komplikasi lebih sedikit, bayi yang sehat dan ibu pun lebih mudah dalam menyusui.

Nah, kalau CBE mah udah ketahuan dari namanya juga ya, Childbirth Educator, pendidik persalinan. Fungsi pendidik ini sebenarnya idealnya dilaksanakan oleh tenaga medis ya. Tapi jarang sekali kayaknya kita bisa dapat informasi yang lengkap dari setiap sesi ANC (antenatal check-up, periksa kehamilan) bersama bidan/dokter. Dalam gap inilah CBE mengambil peran.

 

Apa saja yang dipelajari oleh para calon Doula dan calon CBE di workshop-nya AMANI Birth?

Dalam workshop AMANI, kami belajar tentang natural birth. Proses kelahiran alami. Yang ngajar langsung Aisha Al-Hajjar, founder AMANI. Beliau adalah bidan senior asal Amerika. Juga seorang muallaf, dan kini tinggal bersama suaminya di Saudi. Lebih lanjut tentang profil profesional Aisha intip linked.in beliau ya di sini.

Yes betul, selama tiga hari itu cas-cis-cus materi pake bahasa Inggris. Sampe saya kirim SMS ke Mas Bram aja kebawa jadi nginggris, heu. Tapi tenang, ada translator kok. Kemarin itu dibantuin sama Mba Sinta sebagai penerjemah (haiiii Mba Sinta *dadah-dadah ke Mba Sinta*).

Tiga hari itu teh, sesungguhnya i was like.. pengen loncat-loncat.. kyaa Aishaa.. finally i met Aisha.. da kumaha atuh diam-diam ngefans. Tapi engga gitu sih, ketemu Aisha mah jaim dong, kekekekk..

Kami belajar apa aja pas workshop AMANI Birth?

Ah. Banyaaaak pisan.

Natural birth is so amazing. MasyaAllah.. Kalo kita mah biasa nyebut kelahiran teh dua jenis yah, normal sama sectio caesarian. Nah, kalo menurut Aisha, yang lahiran normal (per vaginam) itu dibagi jadi dua lagi: medicated dan unmedicated (natural).

Kami mempelajari segala aspek tentang natural birth. Tiga hari workshop itu serasa kurang deh. Tapi sesungguhnya proses belajar kami untuk menuju certified AMANI Birth masih berjalan hingga 6 bulan setelah workshop dengan pembelajaran jarak jauh via kelas online.

Ada 20 Modul dalam kurikulum AMANI Birth yang kami bedah saat workshop bersama Aisha. Selain itu, karena kami disiapkan untuk menjadi pengajar dan mendampingi ibu hamil, kami juga belajar hal-hal terkait bagaimana menghadapi berbagai macam karakter orang, bagaimana cara menjadi pendengar yang baik, bagaimana agar saat mendampingi tetap menjaga service excellent, dll.

Jika sudah lulus workshop AMANI hingga tahap tugas-praktek-ujian, para CBE bisa membuka kelas AMANI dan menggunakan kurikulum AMANI saat mengajar.

Oh iya, AMANI Birth workshop telah dilaksanakan di 20 negara; USA, Saudi Arabia, Egypt, UAE, Iraq, UK, Ireland, New Zealand, Pakistan, Canada, Malaysia, Indonesia, Singapore, Spain, Kenya, Somalia, Jordan, Palestine, Cypress, dan Bahrain.

Mmm.. Saya ngga sabar untuk segera bisa menjadi bagian dari International AMANI Family 

modulamanai

Modul Lengkap Kelas AMANI Birth

 

Jadi yang gimana yang disebut dengan lahiran “cara AMANI” itu?

AMANI Birth itu sesungguhnya bukan sebuah metode lahiran khusus.

AMANI Birth adalah sebuah filosopi untuk mempercayai desain Allah yang sempurna terhadap tubuh seorang wanita.

AMANI Birth juga adalah sebuah program edukasi untuk mengajarkan wanita tentang bagaimana tubuh mereka bekerja selama waktu yang diberkahi yaitu kehamilan, persalinan, melahirkan, dan awal menjadi ibu.

Jadi ini bukan tentang waterbirth, kasur-birth, homebirth, hospital birth, unassisted birth, dan lain-lainnya ya. Itu mah pilihan. Silakan pilih yang mana aja yang paling sesuai. Pastikan Anda memilih dengan berilmu terlebih dahulu.

Kami sadar, tidak semua proses kelahiran bisa sempurna bagaikan textbook. Tujuan utama kami adalah membekali ibu (dan keluarga) dengan pengetahuan. Sehingga setiap ibu bisa merencanakan proses kelahiran yang dia inginkan dan percaya diri bahwa dirinya telah membuat pilihan yang terbaik saat ada intervensi medis diperlukan.

CBE-goal

Tidak ada yang salah maupun benar dalam persalinan. Tapi gagal dalam mempersiapkannya akan menyebabkan intervensi.

Selamat bersusah-susah belajar ya, para bumil. Menjadi berilmu dan bersiaplah menghadapi saat kelahiran.

Sekarang waktunya belajar. SEKARANG.

Tapi kalau mau ikut Kelas AMANI Birth sama saya mah baru bisanya awal tahun depan, insyaAllah udah bisa praktek ngajar. Heu, doakan yaaa teman-temaan^^

Tentang menuntut ilmu, i loooove this quote much:

Dalam Islam, usaha menuntut ilmu termasuk ibadah. Ibadah dalam artian sebagai bentuk penyerahan diri mutlak hanya kepada Allah; terhadap semua aturan-Nya, baik yang diperintahkan maupun yang dilarang.”

Kutipan dari Yusuf al-Hajj Ahmad, dalam buku “Mukjizat Alquran yang Tak Terbantahkan”.

 

Untuk teman-teman yang ingin ikut workshop AMANI juga, ini kurang lebih tahapannya ya..

Tahapan untuk Menjadi Certified Affiliated AMANI Birth Doula dan CBE

  1. Mendaftar ke website AMANI Birth
  2. Mengikuti Workshop AMANI Birth selama tiga hari di kota terdekat
  3. Mengerjakan tugas pasca workshop dalam kurun waktu maksimal 6 bulan setelah workshop
  4. Tugas Tahap I:
    • Menuliskan cerita persalinan masing-masing anak
    • Membuat summary Buku AMANI Birth (30 chapters)
    • Membuat summary 3 buku lainnya (2 tentang natural birth dan 1 tentang menyusui).
    • Mengisi kolom pasca workshop
    • Mengisi profile di web AMANI
  5. Tugas Tahap II:
    • Mendampingi persalinan (utk yg ingin certified Doula)
    • Mengajar 20 modul lengkap dalam Kelas AMANI (utk yg ingin certified CBE)

Terakhir adalah ikut final exam, online tertulis.

***

Will i be doula? Pengeeen. Tapi belum kebayang. Asa belum siap jadi wanita panggilan, heu. Orang melahirkan itu kan ngga ketebak kapan ya. Range waktunya bisa maju atau mundur 2 minggu dari HPL. Means saya harus stay sebulan penuh.

Serius pengen. Momen lahiran teh selalu menyimpan hikmah mendalam. Komo kalo anak pertama mah, it’s the day a mother born.

Tapi ya, kalopun tahun ini hanya kekejar target untuk jadi CBE aja, it will be very okay then. Tugas saya jadi mengedukasi dan mempersiapkan para suami buat jadi doula kece. Harus punya jiwa doula atuh yah tuan suami teh, biar tambah ganteng menurut perasaan istri masing-masing.

Bismillah. Still long way to go. May Allah always bless and guide the way.

***

Salam dari Ibu Kecil^^

Bismillah.. Hello again, blogsphere^^

Bismillah..

Ini sudah.. *sambil ngitung jari* er… tiga tahun lamanya sejak posting blog terakhir di blog yang lama. Huehue.. Where have you been, Dee?


Do not ask, yes? Because I have no answer for that. I was just here and there, thinking (too much) about when will I blog again, oh my I should write again, and so on and so on. And..

Hello again, blogsphere. I miss you.

My name is Maya Dewi Mustika. Some called me Maya, some called me DM (with english pronunciation: Dee-M). Whatever, both are my names^^

Ibu Kecil: a happy learner journey is my brand new blog. It will be mostly about books, motherhood, and home education. InsyaAllah.

My former blog Superduperdee will not deleted, so I can go back to my ‘alay’ period anytime, hehe…

Salam dari Ibu Kecil^^

SalmanITB.com Jadi Narasumber TechnoCafe PJTV

ki-ka: Maya Dewi Mustika, Yudha P. Sunandar, dan Adi Sumaryadi dalam proses pengambilan gambar untuk acara TechnoCafe PJTV (Foto: Fery AP)

Selasa (3/4) sore itu Front Office YPM Salman agak berbeda dari biasanya. Sementara di luar para pengunjung Salman tengah berteduh dari hujan, dua orang kameramen tengah sibuk mengatur kursi-kursi.

“Teteh agak ke kiri duduknya,” ujar Ajeng di balik kamera.

Telah bersiap duduk di kursi Maya Dewi Mustika dan Yudha P. Sunandar dari Redaksi SalmanITB.com. Di kursi berbeda, Adi Sumaryadi si pembawa acara telah pula bersiap.

Redaksi SalmanITB.com menjadi narasumber untuk acara TechnoCafe, Parijz Van Java TV (PJTV). Acara yang tayang setiap hari Minggu pukul 17.30 ini membahas perkembangan dunia teknologi informasi.

Keberadaan internet sebagai salah satu bagian dari teknologi informasi turut menjadi primadona dalam dunia jurnalistik. Jika sebelumnya kita mengenal jurnalistik cetak dan radio, kini jurnalistik dengan media internet tak kalah pamornya. Malah, tidak lengkap rasanya jika pelaku jurnalistik –baik radio maupun cetak– tidak memiliki versi online.

Bahasan tentang jurnalistik online ini yang kemudian menjadi tema yang diangkat oleh TechnoCafe. Dalam pembicaraan ringan yang dipandu Adi, Redaksi SalmanITB.com berbagi pengalaman berjurnalistik secara online.

Kendatipun sebelumnya sempat bingung menentukan tempat, proses pengambilan gambar berlangsung dengan lancar. Nantikan penayangannya pada Minggu 8 April, ya!

 

Oleh Maya Dewi Mustika pada 5 April 2012, salmanitb.com http://wp.me/p15gyf-3is

Aceng Asep Sopandi: Dijerumuskan Salman

Aceng, dijerumuskan Salman pada dunia jurnalistik. (Foto: Fery AP)

“Gara-gara Salman tuh,” ujar laki-laki kelahiran Jatiwangi 41 tahun silam ini. “Gila, itu saya dikasih ilmu jurnalistik, dibukain pikiran saya,” tukasnya kemudian.

Saat masih menjadi mahasiswa jurusan Sejarah Unpad dua dekade lalu, Aceng menjadi perwakilan himpunan mengikuti Diklat Jurnalistik Radio dan Televisi di Masjid Salman ITB. Dari Diklat tersebut rupanya pemilik nama lengkap Aceng Asep Sopandi ini menemukan passion-nya.

Selepas mendapat guyuran ilmu jurnalistik di Salman, Aceng mulai mencari kegiatan-kegiatan jurnalistik di sekitar kampusnya. Dalam proses tersebut, dirinya akhirnya memutuskan untuk memilih radio sebagai media untuk berjurnalistik.

Ihwal kenapa lebih memilih radio daripada televisi atau media cetak, rupanya Aceng punya alasan tersendiri. Dirinya mengaku kerap merasa tertipu oleh radio.

Aceng mengagumi kisah Tutur Tinular, salah satu sandiwara radio masyhur pada zamannya. Kepiawaian para pengisi suara telah membawa Aceng pada imajinasi sempurna tentang tokoh Brahma Kumbara dalam kisah tersebut. “Kerenlah, ngalahin superhero idola saya yang lain seperti Flash Gordon dan Superman,” kisahnya. Begitu hebatnya pengaruh radio bagi Aceng, hingga dirinya merasa kecewa setelah Tutur Tinular ditayangkan di televisi. “Imajinasi saya hancur, tapi saya jadi penasaran dengan dalemannya radio,” kata Aceng.

Berbekal sertifikat dari diklat jurnalistik yang pernah diikutinya di Salman, Aceng mulai mencoba bekerja di radio. Tahun 1995 Aceng bergabung dengan Antasalam Grup, sebuah perusahaan radio di Bandung. Menurut Aceng, Antasalam pada masanya dinilai kreatif menciptakan hal baru dalam dunia jurnalistik radio. “Waktu itu (berita) diramu dengan lagu-lagu hit dangdut. Informasi hangat dan aktual (menjadi) mudah diterima masyarakat,” tutur Aceng.

Selain di Antasalam, Aceng juga pernah berkiprah di LPS (Lembaga Produksi Siaran). LPS merupakan kantor berita radio yang menyediakan berita khusus untuk daerah Jawa Barat. Selama berkegiatan dalam dunia jurnalistik radio, Aceng juga mendapatkan pelatihan-pelatihan dari kantor berita luar negri seperti BBC dan CNN.

Aceng mengaku betah bekerja sebagai jurnalis radio, apalagi jika sudah berinteraksi dengan pendengarnya. Meskipun begitu, ternyata pekerjaannya ini tidak disetujui oleh orangtua Aceng. “Jangan jadi wartawan dong, nanti banyak yang ngincer,” kata Aceng menirukan perkataan orangtuanya.

Bukan tanpa sebab hal ini terjadi. Rupanya rekan-rekan Aceng yang juga berprofesi sebagai wartawan banyak yang diancam dan disiksa karena memberitakan sebuah kasus. Era 90-an dinilai Aceng masih marak oknum-oknum dengan kepentingan tertentu menekan wartawan. “Tapi (hal itu) nggak bikin saya down,” mantap Aceng.

Karir Aceng di dunia jurnalistik radio kemudian terganjal krisis moneter. “Waktu itu iklan kalah oleh media TV, radio kolaps,” jelas Aceng. Aceng sempat mencoba peruntungan di dunia jurnalistik televisi, namun dirinya mengaku tidak betah. Akhirnya dirinya memutuskan untuk kembali ke Jatiwangi pada tahun 2001. Aceng memenuhi harapan orangtuanya untuk menikah dan menjalani profesi baru sebagai seorang guru.

Dirinya mulai menikmati peran sebagai seorang pendidik. Bersama rekan-rekannya, Aceng mendirikan SMK “hampir gratis” di Jatiwangi. Dikatakan demikian karena pihak sekolah membebaskan biaya bagi siswa yang tidak mampu. Siswa tersebut kemudian bisa membayar biaya sekolah setelah lulus dan bekerja. “Nggak gratis juga, tapi memudahkan siswa, dan menyiksa guru-guru,” kelakarnya.

Meski kini sudah tidak lagi menekuni dunia jurnalistik, Aceng mengaku sangat berterima kasih kepada Masjid Salman ITB. “Salman menjerumuskan saya ke bidang jurnalistik,” kenang Aceng.

 

Oleh Maya Dewi Mustika pada 12 April 2012, salmanitb.com http://wp.me/p15gyf-3km

Guru yang Dirindukan

Bu Yuli (berkerudung merah). Foto oleh Asep Sufyan Tsauri.

Berkesempatan bertemu langsung dengan Bu Endang Yuli Purwati (52) menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Sosok Bu Yuli sebagai ibu yang memiliki banyak anak asuh mungkin sudah banyak diceritakan media. Hal itu pula yang membuat beliau menjadi bintang tamu dalam acara Kick Andy. Jika Anda terbiasa merasakan haru saat menonton Kick Andy lewat perantara televisi, maka bayangkanlah bagaimana jika berkesempatan untuk bertemu secara langsung dengan si narasumber.

Itulah yang terjadi pada saya. Berkali-kali saya menahan haru luar biasa saat beliau menceritakan anak-anak asuhnya. Ada yang ditinggalkan begitu saja di paraji (dukun beranak), ada yang merupakan hasil pemerkosaan. Pokoknya kisah-kisah hidup yang selama ini hanya saya dengar di berita kriminal, atau –okelah– sinetron.

Belakangan baru saya tahu kalau kisah-kisah beliau dengan anak-anak asuhnya juga beliau ceritakan dalam buku berjudul “Rumah Seribu Malaikat”. Jadi saya merasa tidak perlu bercerita panjang lebar tentang ini. Saya ingin menceritakan sosok beliau sebagai seorang guru mata pelajaran agama Islam.

Guru Agama yang Kreatif

Apa yang Anda ingat dari pelajaran Agama waktu sekolah dulu? Kalau saya pribadi, langsung teringat kata BBE alias “Buronan Bu Eti”. Bu Eti, Guru Agama saya ketika SMA sering memberikan tugas hafalan ayat. Saya tidak terlalu cemerlang sih dalam hafalan ayat ini. Tapi beruntung saya tidak masuk dalam barisan BBE. BBE ini sebutan yang masyhur di kalangan teman-teman sekelas untuk teman yang menunggak setoran hafalan ayat.

Layaknya pelajaran Agama pada umumnya, Bu Yuli juga memiliki daftar ayat-ayat yang harus dihafalkan anak didiknya. Bu Yuli menerapkan metode tutor sebaya untuk hafalan dan membaca alquran.

“Pada awal tahun ajaran saya biasa melakukan placement test, jadi saya tahu anak-anak mana yang sudah bagus bacaan quran-nya. Mereka kemudian dijadikan tutor untuk membimbing teman-temannya,” kisah Bu Yuli. Para tutor sebaya ini setelah lulus pun masih sering berkumpul. “Para ‘alumni tutor’ ini kemudian tersebar di beberapa perguruan tinggi dan menjadi dai/daiyah di kampusnya,” tutur Bu Yuli bangga.

Ada juga anak yang pada awalnya tidak bisa membaca quran tapi bertekad ingin jadi tutor. Dengan kerja keras anak tersebut kemudian dapat menyelesaikan hafalan untuk satu semester hanya dalam waktu dua bulan saja, dan kemudian berhasil menjadi tutor.

Bu Yuli sering melibatkan siswa-siswinya dalam mengajar. “Di kelas tidak selalu saya yang menerangkan, kadang saya ajak siswa juga. Saya terangkan apa itu kompetensi, apa itu indikator keberhasilan belajar. Saya berikan kebebasan kepada anak tersebut untuk membuat materi dengan media apapun. Mau membuat presentasi dengan power point silahkan, saya beri kepercayaan kepada anak tersebut.”

Pada sebuah kesempatan Bu Yuli pernah membawa manequine (boneka manusia) ke kelas. Tidak lupa Bu Yuli membawa baju dan perhiasan untuk si manequine tersebut. Kemudian siswa laki-laki diminta untuk mendandani si manequine. Setelah itu teman-temannya boleh berkomentar. Di antara komentar-komentar tersebut muncul siswa-siswi yang memberikan pandangan tentang bagaimana berbusana yang sesuai syariat Islam, malah ada yang lengkap dengan ayatnya. Bu Yuli praktis tidak perlu menerangkan lagi.

“Saya jadi fasilitator saja,” ungkap Bu Yuli.

Dalam kesempatan lain, Bu Yuli bekerjasama dengan guru kimia untuk menjelaskan peristiwa kiamat. Selain itu masih ada alat-alat peraga lain yang Bu Yuli gunakan untuk membuat pelajaran agama menjadi menyenangkan.

Orang yang Selalu Belajar

Bu Yuli berkali-kali menegaskan, bahwa dirinya bukanlah malaikat seperti yang sering dikatakan orang-orang. Yang ikut membiayai murid-muridnya yang tidak mampu bukan hanya dirinya, tapi juga teman-teman pengajar yang mau turut menyisihkan uang dengan sukarela.

Pada kesempatan kedua bertemu Bu Yuli di Comlabs ITB, beliau menceritakan bahwa dulunya dirinya mengajar biasa-biasa saja. Bu Yuli mulai mengubah cara mengajarnya pada pertengahan tahun 90-an ketika anaknya yang pada waktu itu kelas 1 SD mengaku kangen sama gurunya.

“Anak saya kan sekolahnya Senin sampai Jumat. Begitu Jumat dia sepertinya resah, bingung menghadapi libur. Suatu hari anak saya minta izin untuk menginap di rumah gurunya saat akhir pekan tiba. Kata anak saya, Umi aku kangen sama ibu guru,” kisah Bu Yuli.

Bu Yuli mengaku heran dengan apa yang terjadi pada anaknya. Karena penasaran, Bu Yuli berusaha mencari tahu bagaimana keseharian guru-guru anaknya ketika mengajar. Dari situ dirinya terinsipirasi untuk memperbaiki cara mengajarnya dan menjadi guru yang dirindukan murid-muridnya.

***

Bertemu orang-orang hebat membuat saya senang, tapi juga sekaligus malu. Bu Yuli semakin mengingatkan saya untuk peduli terhadap sesama dan terus belajar untuk meningkatkan kualitas pengabdian saya.

 

Oleh Maya Dewi Mustika pada 25 Februari 2012, salmanitb.com http://wp.me/s15gyf-11906

Pantang Menyerah, Tika Akhirnya Sampai ke Kansas

Afriyanti Dwi Kartika (sumber foto: fb)

Mahasiswa ilkom identik sama koding? Tapi alhamdulillah ya belum ada mahasiswa ilkom yang berubah jadi angka 1 dan 0, hehe 😀

Afriyanti Dwi Kartika, mahasiswa ilkom yang satu ini berhasil membuktikan bahwa nggak cuma koding yang mahasiswa ilkom bisa. Tahun 2011 ini, mahasiswi pendilkom 2007 yang biasa disapa Tika ini mendapatkan beasiswa penuh belajar bahasa Inggris selama 2 bulan di Amerika.

Program yang Tika ikuti ini bernama Indonesia English Language Study Program (IELSP). Setiap tahunnya IELSP memberikan kesempatan kepada mahasiswa dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk mendaftar. Tahun ini, Tika termasuk dalam 72 orang mahasiswa Indonesia yang berhasil meraih beasiswa ini. Di Amerika sana, ke-72 orang ini disebar lagi ke kota-kota berbeda. Kansas adalah negara bagian Amerika tempat Tika mendapatkan pengalaman belajar bahasa Inggris yang tak terlupakan.

Simak kisahnya yuk 🙂

Sampai Apply Tiga Kali

Yep. Ternyata uni dari Padang ini sudah mencoba daftar IELSP sejak tahun 2008. “Awal nyoba daftar itu tahun 2008 bareng Teh Winki (Winda Rizki, ikom 2006). Waktu itu Teh Winki yang lolos, ke Ohio.” cerita Tika.

Sejak awal Tika memang tertarik dengan bahasa Inggris. Saat SPMB pun pilihan kedua setelah ilkom adalah jurusan bahasa Inggris. Setelah menjadi mahasiswa ilkom, Tika menyalurkan minatnya dengan bergabung di English Club DT (Daarut Tauhid). Setiap tahunnya, anggota klub bahasa inggris yang Tika ikuti ada saja yang lolos IELSP. Dari sinilah awal perkenalan Tika dengan IELSP.

Tahun 2009 Tika mencoba lagi peruntungannya, masih belum lolos juga. “Bahkan seleksi dokumen juga nggak lolos,” kenang Tika. Tahun 2010 adalah kesempatan terakhir Tika untuk mendaftar. Dengan semangat pantang menyerah akhirnya Tika daftar lagi.

“Setelah ditelaah, ternyata memang ada kesalahan yang dilakukan di tahun-tahun sebelumnya. Alhamdulillah  yang ke-3 ini masuk tahap wawancara. Terus akhirnya lolos deh dan berangkat tahun depannya.”

Menurut Tika, pada tahun-tahun sebelumnya dirinya melakukan kesalahan dengan tidak mengurut data-data aplikasi. Seharusnya aplikasi yang dikirimkan diurut dengan rapi, misalkan form aplikasi dulu baru kemudian lampiran-lampiran yang lain. “Mungkin saking menggebu-gebunya dulu nggak tersusun,” ungkap Tika. Dalam  membuat esai sebagai syarat aplikasi pun disarankan Tika jangan terlalu meninggi atau merendah, apa adanya saja.

Belajar Disiplin dari Dosen di Kansas University

Tinggal selama 8 minggu di negeri orang telah menjadi pengalaman tidak terlupakan bagi Tika. Di sana, Tika belajar di Kansas University. Seperti mahasiswa lainnya, para penerima beasiswa ini mendapatkan semacam kartu mahasiswa yang bisa digunakan untuk segala macam keperluan. “Kita dapat kartu mahasiswa, bisa dipakai untuk masuk asrama, makan, pakai bus. Kita tinggal di kota Lawrence. Di seluruh kota, kalau kita pakai kartu mahasiswa bus gratis. Enak kemana-mana free. Koran-koran juga free untuk mahasiswa, padahal dosen harus beli,” kata Tika.

Menurut Tika, ruangan kelas di sana tidak terlalu beda dengan apa yang biasa ditemui di ilkom.  Di kelas terdapat fasilitas koneksi internet, LCD, proyektor dan perangkat lain. Hal yang berbeda yang ditemui adalah kebiasaan dosen.

Dosen datang 5-10 menit sebelum kelas dimulai, kemudian melakukan persiapan di kelas. Saat mengajar pun dosen di sana sangat memperhatikan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Selain itu ketika ada mahasiswa yang kesulitan, dosen menawarkan diri untuk mengadakan pelajaran tambahan.

Selain dari Indonesia, penerima beasiswa juga ada yang berasal dari Arab, Irak, China, Korea dan Jepang. Bahasa Inggris orang Indonesia relatif itu lebih enak didengar daripada bahasa Inggris peserta dari negara lain. “English mereka susah dimengerti, jari mereka nggak pede. Agak susah gaulnya sama mereka, banyaknya berkelompok dengan teman-temannya sendiri.”

Saat ditanya mengenai jilbab yang dipakainya, Tika mengaku tidak menemui hambatan karena terlihat berbeda. Memang awalnya ada juga yang bertanya dan merasa aneh, apalagi di sana saat itu sedang musim panas. Dengan penjelasan mereka mengerti dan menghormati. Jika waktu salat tiba pun peserta yang beragama Islam dipersilakan menunaikan salat. Namun demikian, tidak disediakan tempat khusus. Jadi harus pintar-pintar mencari ruang kosong yang bisa dipakai.

Jangan Jadi Mahasiswa Kupu-Kupu

Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu. Kurang lebih itulah pesan Tika, jangan jadi mahasiswa kupu-kupu. Tahu, kan? Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang. Sebisa mungkin aktiflah di bidang yang kita minati. “Teman-teman yang alumni IELSP saya lihat organisasninya aktif-aktif,” kata Tika.

Biasanya, keaktifan kita menjadi pertimbangan saat seleksi penerimaan beasiswa. Menurut Tika, pihak penyelenggara umumnya berpikir kalau sudah dapat ilmu dari beasiswa yang diajukan, ilmunya akan dikemanakan jika si penerima beasiswa tersebut tidak berorganisasi atau punya komunitas.

“Rajin-rajin juga cari info. Usahakan menjaga IP, biasanya suka ada syarat IP minimal.”

Tika juga berpesan jangan malas mengurus surat-surat. “Kalau mau bikin surat rekomendasi dari dosen, Bapak Ibu Dosen pasti mendukung, jadi pasti dibantu. Jangan mundur duluan sebelum dicoba.”

Terakhir, pesan Tika jangan menyerah. Kalaupun gagal, ada ladang instropeksi diri dan kesempatan untuk menyempurnakan ikhtiar.

“Waktu sharing sama teman-teman yang lain juga pada kaget. Ada yang 1 kali langsung lolos, ada yang 2 kali, eh saya 3 kali,” pungkas Tika.

 

Berita ini ditulis untuk ilkom.

Fun Learning, Edukasi Lewat Game

image taken from http://elmonteblog.com/

“Tell me and i will forget. Show me and i may remember. Involve me and i will understand.”

Kutipan dari Confucious (450 SM) itu disampaikan Arif dari Agate Studio dalam sebuah bahasan mengenai Seriouse Game.

Game serius? Ya, boleh dikatakan Seriouse Game adalah “genre” untuk game yang memiliki tujuan serius, tidak semata hiburan. Tujuan serius itu antara lain education, training, social change, dan tujuan lain yang lebih spesifik. Sebagai contoh adalah game Military Warfare School. Game ini memberikan simulasi tentang peralatan kapal bagi angkatan laut. Contoh lain adalah game Power of Research yang melibatkan lima peraih nobel ilmu pengetahuan dalam pembuatannya. Game ini bertujuan agar kaum muda tertarik pada ilmu pengetahuan.

Edukasi melalui game dinilai menyenangkan dan efektif. Game selalu memberikan positive feedback –contohnya dalam bentuk skor atau bonus– sehingga orang senang melakukannya. Menurut Arif, sifat game yang interaktif secara tidak langsung memberikan experience (pengalaman) kepada pemain. Dari experience ini orang merasa senang dan kemudian muncul keinginan untuk melakukan. Walaupun secara tidak langsung, pemain dilibatkan dalam sebuah proses sehingga tidak sekedar tahu, namun menjadi paham.

Jika Arif mengusung game komputer, Eko Nugroho dari Kummara memperkenalkan board game. Board game adalah game yang dimainkan pada board (papan/karton) yang didesain khusus. Salah satu board game yang umum kita tahu adalah monopoli dan ular tangga. Salah satu inovasi Kummara adalah board game Mahardika!. Secara tidak langsung board game Mahardika! membuat pemainnya belajar tentang sejarah kemerdekaan Indonesia.

Manurut Eko, game adalah media yang powerful. Selain karena menyenangkan, game adalah media yang kreatif, informatif dan interaktif.

Oleh Maya Dewi Mustika pada 25 Maret 2011, IDeLearning.com http://idelearning.com/?p=8

Muhammad Nizam (UNS) : Terapkan E-Learning Fleksibel

 

image taken from here

Universitas Sebelas Maret (UNS) telah lebih kurang 4 tahun menerapkan E-Learning di kampusnya. Muhammad Nizam, dosen Fakultas Teknik UNS, adalah salah satu yang aktif menggunakan E-Learning.

“Bagus. Kalau saya berhalangan mengajar seperti ini. Saya tinggal mengisi tugas di E-Learning,” ujar Nizam.
Manfaat lain yang Nizam rasakan dari E-Learning adalah waktunya terasa lebih longgar. “Tapi memang harus aktif buka internet,” tambahnya.

Menurut Nizam, penggunaan E-Learning bisa fleksibel sesuai kebutuhan. “Mata kuliah dasar misalnya, tutorialnya lebih banyak,” tutur Nizam. Selain berdasarkan mata kuliah, pengaturan juga dilakukan berdasarkan jumlah mahasiswa yang mengontrak. Kelas besar dan kecil disiasati perlakuannya. Kelas besar hanya bisa mengakses konten, sementara untuk pengumpulan tugas disediakan alamat e-mail lain. “Karena kalau sampai server down juga kan merugikan,” ujar pemegang gelar Ph.D ini. Sementara untuk kelas kecil yang jumlah mahasiswanya hanya sekitar 20-an orang, selain akses terhadap konten juga ditambahkan akses lain seperti pengumpulan tugas, forum diskusi, dan lain-lain.

Hadapi Mahasiswa Pemalu
Dari pengalamannya selama mengajar, salah satu masalah yang dihadapi Nizam selama ini adalah mahasiswa yang pemalu. “Kalau di kelas saya tanya siapa yang sudah paham, tidak ada yang tunjuk tangan. Kalau saya tanya siapa yang belum paham juga semua diam. Ini gimana to?” Menurutnya, karakter mahasiswa jawa itu tidak mau menonjolkan diri. Kalau ada ilmu diam, tidak banyak bicara. Orang lain tidak tahu dia sudah paham atau belum. “Kalau mereka tidak berani speak out, ada alternatif lain dengan E-Learning ini.”

Dari tugas-tugas yang diserahkan mahasiswa melalui E-Learning, Nizam menilai ada beberapa yang memang berpotensi. “Saya sampaikan juga di forum, kalau project-nya bisa untuk tugas akhir.” Diakuinya, selama menggunakan E-Learning mahasiswanya cukup aktif dan antusias. “Kalau ada materi-materi bagus dari youtube saya embed-kan,link-link dari situs lain juga. Waktu saya tanya pendapatnya, mahasiswa mengaku suka,” ungkap dosen yang mengampu mata kuliah Manajemen Energi ini.

Kendati sudah banyak terasa manfaatnya, belum semua dosen di UNS menggunakan E-Learning secara aktif. Nizam mengungkapkan akan terus memberikan contoh ke kolega lain. “Bahwa program E-Learning ini ada, dan bagus,” tandas Nizam.

Oleh Maya Dewi Mustika pada 10 Maret 2011, IDeLearning.com http://idelearning.com/?p=59

Caecilia (Univ. Ciputra) : Dambakan E-Learning sekeren Facebook

Caecilia, Universitas Ciputra

“Ah, Bu, nggilani,” ujar Caecilia menirukan komentar mahasiswanya. Komentar tidak senang itu ditujukan untuk LMS yang biasa digunakan sebagai salah satu media e-learning di Universitas Ciputra. Kendatipun terbilang baru, Universitas Ciputra telah mulai menggunakan system LMS untuk e-Learning. Namun demikian, diakui Caecilia, fungsinya lebih banyak sebagai repositori saja.

“Menurut anak-anak, tampilan LMS yang sekarang itu tidak menarik,” ungkap dosen yang mengampu mata kuliah pemrograman ini.

Selama ini menurut Caecilia, interaksi lebih banyak dilakukan melalui jejaring sosial seperti Facebook. “Akhirnya daripada tidak ada interaksi on-line sama sekali, kami menggunakan FB. Ada beberapa mata kuliah sampai dibuat grupnya di FB, dan itu aktif. Begitu pindah ke LMS moodle mati lagi,” ujar pemilik nama lengkap Caecilia Citra Lestari ini.

“Bagaimana caranya itu desain (moodle -red) bisa di-cover seperti FB agar anak2 tertarik,” tambahnya. Caecilia mengungkapkan, mahasiswa mungkin akan lebih tertarik dengan mobile-learning, seperti halnya Facebook bisa diakses mobile.

Kendala dari Dosen
Selain dari sisi mahasiswa, menurut Caecilia dosen pun masih memiliki kendala dalam menerapkan e-learning. “Bikin konten itu susah,” tutur Caecilia. Materi perkuliahan di moodle selalu update, namun dosen membuatnya mepet-mepet. “Jadinya kuliah dulu baru nanti materi bisa diambil di moodle.” Menurut pemilik gelar Magister Ilmu Komputer ini, hal tersebut kurang efektif. “Seharusnya hal itu dibalik,” kata Caecilia.

Materi idealnya bisa diakses mahasiswa sebelum perkuliahan dimulai. “Anak-anak harus siap dulu sebelum kuliah dimulai, (persiapannya) dalam bentuk membaca lebih dalam.” Hal ini dirasa lebih efisien karena dosen tidak harus membantu mahasiswa dalam materi yang bisa dikuasai dari membaca source. Belajar di kelas tinggal diskusi, memberikan tips dan tambahan lain dari dosen.

Oleh Maya Dewi Mustika pada 10 Maret 2011, IDeLearning.com http://idelearning.com/?p=57

Andi Kresna Jaya (Unhas) : Lomba Konten Multimedia, Usaha Pacu Semangat Dosen

Andi Kresna Jaya, Universitas Hasanuddin

Selama ini berkembang opini bahwa anak mudah lebih cepat bisa beradaptasi dengan teknologi ketimbang orang tua. Dalam konteks perkuliahan, anak muda adalah mahasiswa, sedangkan orang tua yang membimbingnya adalah dosen. Sementara teknologi yang harus digunakan keduanya adalah E-Learning. Opini tersebut agaknya bisa benar bisa tidak. Yang jelas hal tersebut memberikan tantangan tersendiri untuk bisa memacu dosen aktif ber-E-Learning.

Andi Kresna Jaya, dosen Fakultas MIPA Universitas Hasanuddin (Unhas), berkesempatan berbagi pengalaman tentang perkembangan E-Learning di kampusnya. Menurut Andi, seiring perkembangan teknologi dan sumber daya manusia, perkuliahan perlu di-backup dengan penggunaan multimedia dalam E-Learning. Sejak tahun 2008, Unhas sudah mulai mengadakan pelatihan E-Learning. Awalnya E-Learning dikenalkan kepada pimpinan fakultas, kemudian secara berkala dosen-dosennya dilatih.

Diakui Andi, respon mahasiswa bagus terhadap E-Learning. Namun dosen agak kesulitan membuat konten. Di tahun awal penggunaan E-Learning, sempat diadakan lomba diantara dosen-dosen untuk membuat konten multimedia. Lomba ini mencakup 11 mata kuliah. Kala itu muncul dan berkembang konten-konten multimedia dari dosen.

Namun setelah itu tidak ada lanjutannya kembali, semangat dosen kembali melempen dalam memproduksi konten E-Learning. “Setelah dicek lagi tahun 2010 ternyata masih belum banyak kontennya,” ungkap dosen jurusan matematika ini.

Andi memaparkan E-Learning bisa digunakan sesuai kebutuhan untuk mengembangkan tacit knowledge dan explicit knowledge secara seimbang. Unhas sendiri memiliki target tahun 2011 ini 80% perkuliahan sudah menggunakan E-Learning dengan aktif. “Kami akan tetap melakukan sosialisasi terus-menerus,” ujarnya optimis.

Oleh Maya Dewi Mustika pada 10 Maret 2011, IDeLearning.com http://idelearning.com/?p=56